Minggu, 04 Desember 2011

ड्रमर अच्छा, स्मार्ट पूर्णता के साथ, अनुशासन वयस्क, और ब्रेन गेम पर भरोसा

Senin, 03 Oktober 2011

SMA 30 JAKARTA

see, hear and just know, for the new kid in school the first thing it does do

SMA 30 GOKILLLLLLLLLL...

RAWASARI tepatnya pas bgt 500meter dari kost. sejauh ini woles ajalah guru,anak-anak nya,penghuni sekolahnya ( hantu dan sekitarnya ),satpam,temen skelas semua nya welcome bgt sma anak baru, no diskriminasi! . sekolah nyaman bertema go green berasa di hutan mana gituu....baru beberapa minggu semua kegiatan masih enak-enaknya, no cabut!.. apalagi sabtu libur,gag kayak di jambi, minggu doang libur, mna diajak nyokap kondangan lagi, ah ribet...jadi gag ada waktu istirahat.. klo disini kan sabtu libur, jadi mantaff tidurnya bangun palingan udah adzan maghrib, sholat maghrib doang, ntar klo di akhirat ditanya, # kenapa kamu sholat cuman sholat maghrib ? #kevin menjawab : sorry god i'am forget, trus dijawab lagi : #ohhhhhhh ( akulah sang maha pengertian dan penyayang kepada umatnya,)...#kevin menjawab : seenggaknya ada doa individu, hha.

lah kok jadi kesono....30 jakarta gokil deh,dari upacara bendera yang kocak bgt bikin nahan2 ketawa gimana gitu... smpe balik sekolah jam 3 cabut TS ketawa bareng SKETSA. kocak anak2nya ... belum nemu gua istilah lo ya elo gue ya gue ... so far so good, and what about subsequent. ... tau deh ah... jalanin aja dulu, adaptasi dengan asap metromini + kolam brenang veldrom yang air kolam nya...gimana gitu...panteran air kolam ikan 30 kali ya..

Selasa, 02 Agustus 2011

follow ya @jubreak

Jakarta City Blues - Jazz Indonesia ( indra aziz )

Javanica Live in Festival Se-Sumatera VII

Pertama mengenal musik jazz

ass,wr.wb.

come back with me again di blog goblog gue, hhe

sesuai judul diatas, ''pertama kali kenal jazz ''

kata emak bapak sih waktu masih dalam kandungan, si dokter aja nyaranin kok buat dengerin lagu lagu classic gitu, ternyata terbukti kan dari kecil aja dokter udah nyaranin musik2 yg lembut~

dulu waktu balita udah dikelilingi keluarga yang sangat mencintai musik, terutama bapak sama oom gue, klo bapak gue lebih dominan musik rock n roll,katanya sih yang denger lagu lembut itu gag laki!, hhahha, tapi kalo oom gue specialis nih pemain gitar klasik,sampai2 oom gue nih sekolah gitar tinggi2 ( untung gag jatuh # )hha dia juga ngajar di sekolah musik vini vidi vici, sekarang dia ngajar musik di kussel,germany, namanya om ezekias wangge,mungkin waktu kecil gara2 banyak dengerin musik yg gag karuan / campur aduk gitu, makanya pas kenal musik juga campur aduk gitu, pertama kali dengar lagu yang enak itu genre nya hiphop, lagunya iwa k tuh keren2, trus mulai kenal lagi musik rock n roll dari bapak gue yaitu lagu2 nya oasis, trus baru kenal lagi musik rock! dlu lagi booming bgt lagu2 nya jamrud yang lyric nya semena2 aja, gara2 tmen2 sekitar suka nya musik rock semua, yaudah deh, di dalemin bgt tuh musik rock, sampe download2 lagu2 rock lama kyak iron maiden,queen, yg gitu2 lah, trus udah lama bgt nih kenal rock udah khatam istilahnya ketukan rock beat itu + not balok nya, mulai deh kehidupan ababil datang nih, kerasa udah bosen bgt di musik rock, itu2 aja, udah main nya keluar keringat + nafas cenat cenut helehhh, kyaknya mau ngubah aliran nih, tapi kemana ya, deng!deng!deng! trus muali mengamati musik sekitar.....dan akhirnya ktemu musik, yang feel main dimainin dan gag harus keluar keringat + merinding bgt dengernya hhhehh jeng!jeng!jeng! musik J A Z Z. yahhhh sampe sekarang malah keterusan dan gag ada bosan nya karna ada aliran jazz itu yg namanya FREE JAZZ,ya jadi terus bereksperimen deh di musik jazz, gue bakal dalamin bgt nih yg namanya mainin musik jazz, terutama drum, hhehhehh seperti kata buku TATANG SUTARMAN '' klo sudah niat dalam satu hal, harus TOTAL ''

wasalammm

JAZZ itu apa ?

Apa itu JAZZ?

Jazz dimulai sebagai istilah "Rubber Tube" Pantai Barat sekitar tahun 1912, yang berarti "yang bervariasi" tetapi tidak mengacu pada musik atau seks. Jazz masuk ke Chicago sekitar tahun 1915. Jazz dimainkan di New Orleans sebelum waktu itu, tapi tidak disebut jazz.

Kata-kata "JAZZ" muncul di pertunjukan "baseball" di San Francisco tahun 1913. "Jazz" diperkenalkan oleh William (Spike) Slattery, Sports Call Editor, dan disebarkan oleh Seniman bernama "Hickman" <<- kalau saya tidak salah.. Lalu di Chicago tahun 1915 tapi belum masuk di New York. Kata jazz muncul pada 3 Maret 1913, artikel bisbol di San Francisco Bulletin oleh ET "Scoop" Gleeson.

Musik jazz memiliki beberapa aliran yaitu:

* New Orleans jazz
* Big-band/swing
* Bebop
* Ragtime
* Free jazz/avant-garde jazz
* Smooth jazz
* Fusion jazz
* Funk
* Acid jazz


Hingga saat ini musik jazz di tanah air terus berjuang untuk dapat menjangkau berbagai lapisan dalam masyarakat. Ironisnya musik ini belum mampu menjangkau seluruh lapisan, khususnya lapisan bawah. Bahkan ada sementara anggapan, kalau bukan stereotype, yang menyatakan bahwa jazz identik dengan gaya hidup lapisan menengah keatas. Musik Jazz ada kecenderungan hanya difahami, dinikmati, dan dikonsumsi oleh orang-orang yang tergolong “gedongan” seperti kalian yang terpelajar, atau pengusaha, pejabat, dan selebriti. Ada pun yang anggapan bahwa musik jazz mempunyai sofistikasi yang tinggi, bila ingin memahaminya, orang harus memiliki intelegensia yang lebih dari pada pendengar musik lain. Argument inilah yang memperkuat dugaan mengapa jazz hanya dimiliki lapisan menengah ke atas.

Inti dari semua ini adalah:

*Apakah musik Jazz itu?
*Mengapa musik jazz yang lahir dari negeri asalanya lahir dalam kultur politik perbudakan setelah masuk ke Indonesia menjadi elit dan eksklusif?
*Betulkah sofistifikasi yang dimiliki jazz menurut intelegensia yang lebih dalam memahami bila dibanding dengan musik lain?

APAKAH MUSIK JAZZ ITU?

Musik Jazz lahir dari tangan-tangan kreatif orang-orang hitam yang mengalami penindasan dan perbudakan di Amerika pada akhir abad ke-18. Ekspreasi dari sebuah perlawanan terhadap sistem politik yang rasis dan menindas terwujud dalam cara bermusik dan gaya permainan orang-orang hitam Amerika. Sejarah telah mencatat bahwa perbudakan dan diskriminasi rasial di Amerika justru melahirkan musik-musik perlawanan seperti Spiritual, gospel dan blues. Gejala ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah resistensi budaya orang hitam terhadap Westernisasi, baik dari segi agama, kultur politik hingga cara bermusik, karena sebelum dibawa ke Amerika orang-orang hitam telah memiliki kebudayaan khas Afrika.

Pada awalnya spirit musik atau ideologi dibalik jazz adalah pembebasan diri orang Afro-Amerika dari belenggu struktur sosial-politik represif yang dituangkan dalam ekspresi nada, harmoni, dan gaya permainan bermusik. Sebagai contoh, ragtime yang menjadi titik awal perkembangan jazz klasik (march, waltz dan polka), swing merupakan modifikasi dari ragtime, free jazz merupakan reinterpretasi dari bebop dan world music merupakan dekonstruksi jazz mainstream. Dalam perkembangan lebih lanjut spirit jazz diinterpretasikan tidak hanya sebatas perlawanan politis, tetapi menjadi gerakan liberalisasi atau dekonstruksi bermusik dalam rangka mencari ruang gerak, alternatif cara, dan gaya permainan lain.

Akibat dari spirit Jazz yang dialektis, liberal dan dekonstruktif itu maka sebuah gaya permainan lama akan dinegasi oleh ide-ide bermusik yang baru sehingga timbul gaya-gaya permainan baru. Dalam hal ini Berend (1992) menggambarkan kronologi perkembangan jazz dalam tiga periode waktu dimana masing-masing periode melahirkan gaya-gaya permainan spesifik. Pertama, periode jazz tradisional (1890-1940) melahirkan gaya-gaya permainan Ragtime, New Orleans, Dixieland, New Orleans in Chicago, Kansas City, Chicago, Swing. Periode jazz modern (1940-1980) memunculkan New Orleans and Dixieland Revival, Bebop, Cool, Hardbop, Free, Mainstream, Fusion. Periode jazz postmodern (1980-saat ini) memproduksi gaya-gaya Neobop, free Funk, Classicism, Neo-Classicism, No Wave dan World Music.

Puncak dari dekonstruksi dalam jazz terjadi pada tahun 1965-an yang ditandai denagn hadirnya free jazz. Gaya ini merupakan tonggak perkembangan jazz postmodern dengan karakter utama tonalitas bebas (free tonality); disintegrasi pada meter, beat dan simetri; masuknya musik etnis (world music); pemujaan terhadap intensitas; dan masuknya suara-suara alam khususnya dari hutan belantara (jungle sound). Pada dekade 80 dan 90, free jazz menjadi pondasi dari perkembangan fusion dan neo-Classicism, sedang mainstream dari jazz menjelma kedalam gaya permainan Classicism. Oleh karena itu jazz tidak lagi dapat didefinisikan semata-mata sebagai gaya perminan swing, bebop atau mainstream, tetapi sebagai sebuah kebudayaan bermusik yang lebih canggih dan plural.

MUSIK JAZZ DI INDONESIA

Ketika sedang gencar-gencarnya musik jazz dipasarkan di tanah air, nampak beberapa kendala telah merintangi sehingga musik ini belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, namun justru cenderung menjadi elit dan eksklusif. Padahal kalau bersandar pada spirit yang dikandungnya jelas bahwa menjadi elit bukan merupakan tujuan penciptaan musik jazz, sebab jazz selalu “berdimensi pembebasan”. Kalau begitu barangkali ada mekanisme yang kurang tepat dalam sosialisasi jazz di tanah air sehingga hasilnya cenderung bias lapisan tertentu. Mempelajari jazz memang tidak semata-mata memahami dan menikmati gaya-gaya permainan yang ada tetapi alangkah bijaksana kalau juga memahmi dimensi historis dan ideologis yang dikandungnya dalam rangka menghindari bias-bias tertentu.

Ideologi jazz yang bersifat pembebasan, liberal, demokratis dan dekonstruktif terhadap kebekuan gaya-gaya permainan sebelumnya adalah merupakan sifat kritis yang perlu juga dipahami dan diinternalisasi oleh penggemar Jazz kalau mereka ingin mengerti apa itu Jazz. Tanpa sosialisasi dari sifat kritis musik Jazz maka para penggemar Jazz justru dapat terjebak dalam cara sosialisasi yang dikembangakan saat ini oleh “rezim industri musik” sehingga jazz menjadi elit dan eksklusif. Rezim industri musik cenderung menjual gaya-gaya permainan jazz yang mudah dipasarkan tanpa pedulu apakah gaya-gaya permainan yang ditampilkan merupakan gaya-gaya permainan sentral dalam perkembangan jazz atau hanya pinggiran. Bahkan rezim ini cenderung mengeksploitasi simbol modernitas, kehidupan kampus dan eksklusifme dalam memasarka musik jazz. Sebagai contoh merebaknya jazz jenis fusion di tanah air diduga akibat dari cara sosialisasi seperti itu.

Sedang argumen yang mengatakan bahwa jazz memiliki sofistikasi sehingga memerlukan kapasitas intelegensia yang lebih tinggi dari pada memahami musik non jazz adalah sebuah klaim yang sewenang-wenang. Musik tidak semata-mata di pahami melalui rasio tetapi juga dapat melalui rasa dan cenderung lebih merupakan akibat dari kostruksi sosial sebuah komunitas. Mengapa dangdut lebih memasyarakat dari pada jazz ? Jawabannya adalah bahwa harmoni dangdut sudah di sosialisasikan sejak lama sehingga embedded dalam kultur kita, sementara musik jazz lebih merupakan bentuk transplantasi kebudayaan musik dari dunia luar. Akibatnya jazz menjadi asing bagi sebagian lapisan masyarakat bawah yang tidak memiliki akses (baik kapital budaya, sosial maupun ekonomi), tetapi tidak asing bagi lapisan menengah – atas yang memilikinya.

Logikanya sederhana, kalau kita dilahirkan diperkampungan yang didominasi musik dangdut maka harmoni yang kita miliki adalah dangdut. Sedang harmoni diluar dangdut cenderung menjadi asing. Kalau kita dilahirkan dan tinggal di New Orleans atau setidak-tidaknya dilingkungan keluarga yang menggemari musik jazz maka harmoni musik yang kita miliki cenderung harmoni jazz, sehingga musik dangdut barangkali menjadi sesuatu yang asing bagi kita. Jadi persoalannya bukan terletak pada sofistika yang dimiliki musik jazz tetapi lebih pada “relativitas budaya” dalam bermusik. Karena perkembangan musik jazz di tanah air lebih merupakan bentuk transplantasi budaya maka muncul sebuah fenomena yang memprihatinkan dalam sosialisasi jazz, yaitu hearing without understanding dan playing without doing..

sumber : bertapa di gunung kidul hhehhehhe

Pengikut